Untuk kesekian kali aku merasa jatuh dan lemah lagi. Lemah terhadap ego orang lain yg seakan terus saja menekanku. Seperti tak berharga apa-apa di matanya. Atau bahkan mungkin aku tidak dianggap ada. Ini tidak melulu soal cinta. Yg aku tau ini lebih menyiksa dan membuat hati lara. Aku tidak bermaksud menangis kali ini, hanya saja aku tak paham harus lewat apa mengungkapkan sedih hati selain dengan kata-kata. Terlalu sempit ruangku untuk memahami maksud atau tujuan kelakuan yg begitu itu. Hampir sesak pikiranku. Jika saja aku bisa, ingin seharian ini berdiam diri dalam gua, bersahabatkan gelap dan sendiri, mencoba menenangkan diri. Ah, Tuhanku. Bolehkah aku sedikit memaksakan kehendakku pada garis takdirMu? Ingin sekali rasanya berdiri tegak dengan kakiku sendiri tanpa himpitan keharusan dan aturan yg seakan mengikat dan tak boleh disanggahkan. Tunjukkan jalur mana yg harus ku pilih, tuntun langkahku menapaki yg Kau gariskan. Tangguhkan aku, Tuhan, supaya jangan lagi aku jatuh dan lemah. Engkaulah sandaranku, Engkau bentengku. Dalam Engkau aku takkan kekurangan.
Senin, 13 Juni 2016
Jumat, 10 Juni 2016
(bukan)Kesalahan yg sama.
Salam dari jauh kawan lama yg masih tersisa. Kabar kalian ku harap selalu baik-baik saja. Tak ada lagi yg bisa ku lakukan selain melalui doa. Keadaan seakan memaksa semuanya berubah dengan cepat dan tak sesuai asa. Inginku dari dulu tetap sama, andai masih bisa aku tetap ingin saling menyapa, bercanda, dan berbagi cerita. Meski sepertinya tak akan lagi ada.
Awal tahun ini adalah bulan-bulan penyembuhanku. Masa-masa pemulihan dari lara yg menggerogotiku. Sedikit demi sedikit dan pelan, tapi pasti. Banyak hal tak terduga yg menyapa, seperti ingin melengkapi usaha lepas dari masa yg lama. Sedikit banyak kalian tau apa yg terjadi, dan sungguh itu tak ingin ku ulangi. Tak ingin ku ingat lagi dan tak perlu dibahas kembali.
Tentang dia, orang lama, pun akhirnya ku sadari batasnya. Sudah ku jumpa dan nyatanya hanya sebegitu saja. Tak bisa lebih dari yg pernah ada, porsinya tetap sama. Meski beberapa usaha dilakukannya namun hati tetap tak memilihnya. Meski lagu pernah tercipta tapi tetap tak mempengaruhi apa-apa.
Tentang diriku sendiri, yg masih betah menyendiri, mungkin belum saatnya berdampingan dengan seseorang. Bukan karena yg lalu masih terbayang, justru semuanya sudah hilang. Sudah ku hapus dan sudah ku buang. Biar saja yg tak mengerti itu menuduh tak tau terima kasih, toh yg ku alami mereka tak paham seberapa perih. Karma akan tetap ada, dan siapa yg menanam dia yg akan memanen hasilnya.
Sekali lagi biar waktu yg menjawab jika masih ada pertanyaan. Biar masa yg menjelaskan hal yg belum aku terangkan. Setidaknya yg ku lakukan sudah cukup menunjukkan, aku sudah kembali dan tak akan kalah lagi.
Aku yg sekarang adalah aku sebelum kenal mereka. Sudah kembali seperti sedia kala dan tak akan ku ulangi kesalahan yg sama. Tinggal sekarang bagaimana menyusun ulang rencana untuk masa depan yg lebih bahagia. Entah dengan siapa nanti aku lewati semua, yg jelas tujuan sudah ada. Terserah Tuhan saja bagaimana mengaturnya supaya harapanku menjadi nyata. Semoga sesuai kehendakNya, itu saja.
Awal tahun ini adalah bulan-bulan penyembuhanku. Masa-masa pemulihan dari lara yg menggerogotiku. Sedikit demi sedikit dan pelan, tapi pasti. Banyak hal tak terduga yg menyapa, seperti ingin melengkapi usaha lepas dari masa yg lama. Sedikit banyak kalian tau apa yg terjadi, dan sungguh itu tak ingin ku ulangi. Tak ingin ku ingat lagi dan tak perlu dibahas kembali.
Tentang dia, orang lama, pun akhirnya ku sadari batasnya. Sudah ku jumpa dan nyatanya hanya sebegitu saja. Tak bisa lebih dari yg pernah ada, porsinya tetap sama. Meski beberapa usaha dilakukannya namun hati tetap tak memilihnya. Meski lagu pernah tercipta tapi tetap tak mempengaruhi apa-apa.
Tentang diriku sendiri, yg masih betah menyendiri, mungkin belum saatnya berdampingan dengan seseorang. Bukan karena yg lalu masih terbayang, justru semuanya sudah hilang. Sudah ku hapus dan sudah ku buang. Biar saja yg tak mengerti itu menuduh tak tau terima kasih, toh yg ku alami mereka tak paham seberapa perih. Karma akan tetap ada, dan siapa yg menanam dia yg akan memanen hasilnya.
Sekali lagi biar waktu yg menjawab jika masih ada pertanyaan. Biar masa yg menjelaskan hal yg belum aku terangkan. Setidaknya yg ku lakukan sudah cukup menunjukkan, aku sudah kembali dan tak akan kalah lagi.
Aku yg sekarang adalah aku sebelum kenal mereka. Sudah kembali seperti sedia kala dan tak akan ku ulangi kesalahan yg sama. Tinggal sekarang bagaimana menyusun ulang rencana untuk masa depan yg lebih bahagia. Entah dengan siapa nanti aku lewati semua, yg jelas tujuan sudah ada. Terserah Tuhan saja bagaimana mengaturnya supaya harapanku menjadi nyata. Semoga sesuai kehendakNya, itu saja.
Selasa, 15 Maret 2016
Sedikit cerita tentang hari ini.
Siang ini memang sedikit berbeda dengan siang-siang kemarin. Aroma matahari terasa lebih menyengat kulitku. Tak urung membuat gerah dan malas keluar rumah. Stay di rumah juga tak masalah, toh ada gitar dan kertas gambar yang akan membuatku sejenak lupa akan beberapa masalah.
Rabu, 24 Februari 2016
Sehat, Na?
Kesendirian itu kawan lamaku. Sudah biasa aku bersamanya.
Kini aku berjumpa lagi dengannya, dan kami akhirnya bersama. Iya, maksudku
adalah kesendirian. Entah karena apa aku pun tak tau kenapa dia begitu akrab
dengan aku. Mungkin pribadiku menyenangkan baginya.
Rabu, 10 Februari 2016
Ahh..
Hanya mampu terduduk kaku, tak tau harus berbuat apa aku.
Telinga mendengar, mata melihat, tapi seakan tak bisa apa-apa.
Iya, aku ingin. Aku sangat ingin berbuat sesuatu.
Tapi apa?
Atau.. bagaimana?
Seakan aku berada di balik akuarium kaca,
bisa melihat semuanya tapi bisa apa?
Seakan otak pun tak bekerja,
tak bisa memikirkan apa yg mungkin ku bisa!
Sekarang tinggal pasrah saja.
Biar Tuhan sendiri yang mengaturnya.
Biar Tuhan sendiri yang tunjukkan jalannya.
Maavkan aku Tuhan, yang kurang percaya.
Telinga mendengar, mata melihat, tapi seakan tak bisa apa-apa.
Iya, aku ingin. Aku sangat ingin berbuat sesuatu.
Tapi apa?
Atau.. bagaimana?
Seakan aku berada di balik akuarium kaca,
bisa melihat semuanya tapi bisa apa?
Seakan otak pun tak bekerja,
tak bisa memikirkan apa yg mungkin ku bisa!
Sekarang tinggal pasrah saja.
Biar Tuhan sendiri yang mengaturnya.
Biar Tuhan sendiri yang tunjukkan jalannya.
Maavkan aku Tuhan, yang kurang percaya.
Selasa, 09 Februari 2016
Cinta itu .. (Part II)
Kembali membahas beberapa pertanyaan saya di postingan yang lalu,
Benarkah mencintai itu kebebasan ?
Atau adakah batasnya ?
Jika memang ada, apakah yang membatasi itu ?
Apakah umur? Status sosial? Agama? Atau karena sudah ada yang memiliki ?
Muncul banyak tanggapan, perdebatan, terlebih soal "agama". Mengenai pembahasan yang satu ini, saya hanya mencoba mengemukakan pemikiran saya, sama sekali tidak bermaksud memihak.
Benarkah mencintai itu kebebasan ?
Atau adakah batasnya ?
Jika memang ada, apakah yang membatasi itu ?
Apakah umur? Status sosial? Agama? Atau karena sudah ada yang memiliki ?
Muncul banyak tanggapan, perdebatan, terlebih soal "agama". Mengenai pembahasan yang satu ini, saya hanya mencoba mengemukakan pemikiran saya, sama sekali tidak bermaksud memihak.
Teruntuk para kawan.
Kepada sahabat-sahabatku,
sejujurnya aku tak bermaksud pergi sesuka hati, menghilang lalu datang kembali (sesuka hati pula). Namun kalian yang mengenal aku, aku yakin, pasti telah mengerti apa maksud diriku harus pergi. Dan hingga kini pun, aku berniat belum akan kembali.
sejujurnya aku tak bermaksud pergi sesuka hati, menghilang lalu datang kembali (sesuka hati pula). Namun kalian yang mengenal aku, aku yakin, pasti telah mengerti apa maksud diriku harus pergi. Dan hingga kini pun, aku berniat belum akan kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)

